<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>adhit.web.id™ &#187; Networking</title>
	<atom:link href="http://adhit.web.id/tag/networking/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adhit.web.id</link>
	<description>my daily unix notes</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Sep 2011 13:50:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
<link>http://adhit.web.id</link>
<url>http://adhit.web.id/wp-content/plugins/maxblogpress-favicon/icons/favicon-56.ico</url>
<title>adhit.web.id™</title>
</image>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Kerja DHCP?</title>
		<link>http://adhit.web.id/bagaimana-cara-kerja-dhcp/</link>
		<comments>http://adhit.web.id/bagaimana-cara-kerja-dhcp/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 07:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adhit</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Experience]]></category>
		<category><![CDATA[Networking]]></category>
		<category><![CDATA[DHCP]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan]]></category>
		<category><![CDATA[Server]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhit.web.id/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan mengenai DHCP ini saya buat berdasarkan pengalaman saya dalam melakukan instalasi jaringan WIFI, untuk melakukan koneksi dalam jaringan tersebut, client diharuskan memasukkan parameter jaringan seperti IP Address, Subnet Mask, Gateway, dan DNS Server . Tentu merepotkan bukan? Daripada repot-repot kenapa gak menggunakan DHCP server aja?:D Berikut sedikit kutipan dari wikipedia. DHCP (Dynamic Host Configuration [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adhit.web.id/wp-content/uploads/2009/10/dhcp.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-498" title="dhcp" src="http://adhit.web.id/wp-content/uploads/2009/10/dhcp-300x154.jpg" alt="dhcp 300x154 Bagaimana Cara Kerja DHCP?" width="300" height="154" /></a>Tulisan mengenai DHCP ini saya buat berdasarkan pengalaman saya dalam melakukan instalasi jaringan WIFI, untuk melakukan koneksi dalam jaringan tersebut, client diharuskan memasukkan parameter jaringan seperti IP Address, Subnet Mask, Gateway, dan DNS Server . Tentu merepotkan bukan? Daripada repot-repot kenapa gak menggunakan DHCP server aja?:D Berikut sedikit kutipan dari wikipedia.</p>
<p style="text-align: justify;">DHCP (<em>Dynamic Host Configuration Protocol</em>) adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCP harus memberikan alamat IP kepada semua komputer secara manual. Jika DHCP dipasang di jaringan lokal, maka semua komputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat IP secara otomatis dari server DHCP. Selain alamat IP, banyak parameter jaringan yang dapat diberikan oleh DHCP, seperti default gateway dan DNS server.</p>
<p style="text-align: justify;">DHCP didefinisikan dalam RFC 2131 dan RFC 2132 yang dipublikasikan oleh Internet Engineering Task Force. DHCP merupakan ekstensi dari protokol Bootstrap Protocol (BOOTP).</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-494"></span>Karena DHCP merupakan sebuah protokol yang menggunakan arsitektur client/server, maka dalam DHCP terdapat dua pihak yang terlibat, yakni DHCP Server dan DHCP Client.</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><strong>DHCP server</strong> merupakan sebuah mesin yang menjalankan layanan yang dapat &#8220;menyewakan&#8221; alamat IP dan informasi TCP/IP lainnya kepada semua klien yang memintanya. Beberapa sistem operasi jaringan seperti Windows NT Server, Windows 2000 Server, Windows Server 2003, atau GNU/Linux memiliki layanan seperti ini.</li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li><strong>DHCP client</strong> merupakan mesin klien yang menjalankan perangkat lunak klien DHCP yang memungkinkan mereka untuk dapat berkomunikasi dengan DHCP Server. Sebagian besar sistem operasi klien jaringan (Windows NT Workstation, Windows 2000 Professional, Windows XP, Windows Vista, atau GNU/Linux) memiliki perangkat lunak seperti ini.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">DHCP server umumnya memiliki sekumpulan alamat yang diizinkan untuk didistribusikan kepada klien, yang disebut sebagai DHCP Pool. Setiap klien kemudian akan menyewa alamat IP dari DHCP Pool ini untuk waktu yang ditentukan oleh DHCP, biasanya hingga beberapa hari. Manakala waktu penyewaan alamat IP tersebut habis masanya, klien akan meminta kepada server untuk memberikan alamat IP yang baru atau memperpanjangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">DHCP Client akan mencoba untuk mendapatkan &#8220;penyewaan&#8221; alamat IP dari sebuah DHCP server dalam proses empat langkah berikut:</p>
<ol>
<li><strong>DHCPDISCOVER</strong>: DHCP client akan menyebarkan request secara broadcast untuk mencari DHCP Server yang aktif.</li>
<li><strong>DHCPOFFER</strong>: Setelah DHCP Server mendengar broadcast dari DHCP Client, DHCP server kemudian menawarkan sebuah alamat kepada DHCP client.</li>
<li><strong>DHCPREQUEST</strong>: Client meminta DCHP server untuk menyewakan alamat IP dari salah satu alamat yang tersedia dalam DHCP Pool pada DHCP Server yang bersangkutan.</li>
<li><strong>DHCPACK</strong>: DHCP server akan merespons permintaan dari klien dengan mengirimkan paket acknowledgment. Kemudian, DHCP Server akan menetapkan sebuah alamat (dan konfigurasi TCP/IP lainnya) kepada klien, dan memperbarui basis data database miliknya. Klien selanjutnya akan memulai proses binding dengan tumpukan protokol TCP/IP dan karena telah memiliki alamat IP, klien pun dapat memulai komunikasi jaringan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://adhit.web.id/wp-content/uploads/2009/10/cara_kerja_dhcp.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-497" title="cara_kerja_dhcp" src="http://adhit.web.id/wp-content/uploads/2009/10/cara_kerja_dhcp.gif" alt="cara kerja dhcp Bagaimana Cara Kerja DHCP?" width="563" height="628" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Empat tahap di atas hanya berlaku bagi klien yang belum memiliki alamat. Untuk klien yang sebelumnya pernah meminta alamat kepada DHCP server yang sama, hanya tahap 3 dan tahap 4 yang dilakukan, yakni tahap pembaruan alamat (address renewal), yang jelas lebih cepat prosesnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan sistem DNS yang terdistribusi, DHCP bersifat stand-alone, sehingga jika dalam sebuah jaringan terdapat beberapa DHCP server, basis data alamat IP dalam sebuah DHCP Server tidak akan direplikasi ke DHCP server lainnya. Hal ini dapat menjadi masalah jika konfigurasi antara dua DHCP server tersebut berbenturan, karena protokol IP tidak mengizinkan dua host memiliki alamat yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain dapat menyediakan alamat dinamis kepada klien, DHCP Server juga dapat menetapkan sebuah alamat statik kepada klien, sehingga alamat klien akan tetap dari waktu ke waktu.</p>
<p style="text-align: justify;">Catatan: DHCP server harus memiliki alamat IP yang statis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>DHCP Scope</strong></p>
<p style="text-align: justify;">DHCP Scope adalah alamat-alamat IP yang dapat disewakan kepada DHCP client. Ini juga dapat dikonfigurasikan oleh seorang administrator dengan menggunakan peralatan konfigurasi DHCP server. Biasanya, sebuah alamat IP disewakan dalam jangka waktu tertentu, yang disebut sebagai DHCP Lease, yang umumnya bernilai tiga hari. Informasi mengenai DHCP Scope dan alamat IP yang telah disewakan kemudian disimpan di dalam basis data DHCP dalam DHCP server. Nilai alamat-alamat IP yang dapat disewakan harus diambil dari DHCP Pool yang tersedia yang dialokasikan dalam jaringan. Kesalahan yang sering terjadi dalam konfigurasi DHCP Server adalah kesalahan dalam konfigurasi DHCP Scope.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>DHCP Lease</strong></p>
<p style="text-align: justify;">DHCP Lease adalah batas waktu penyewaan alamat IP yang diberikan kepada DHCP client oleh DHCP Server. Umumnya, hal ini dapat dikonfigurasikan sedemikian rupa oleh seorang administrator dengan menggunakan beberapa peralatan konfigurasi (dalam Windows NT Server dapat menggunakan DHCP Manager atau dalam Windows 2000 ke atas dapat menggunakan Microsoft Management Console [MMC]). DHCP Lease juga sering disebut sebagai Reservation.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>DHCP Options</strong></p>
<p style="text-align: justify;">DHCP Options adalah tambahan pengaturan alamat IP yang diberikan oleh DHCP ke DHCP client. Ketika sebuah klien meminta alamat IP kepada server, server akan memberikan paling tidak sebuah alamat IP dan alamat subnet jaringan. DHCP server juga dapat dikonfigurasikan sedemikian rupa agar memberikan tambahan informasi kepada klien, yang tentunya dapat dilakukan oleh seorang administrator. DHCP Options ini dapat diaplikasikan kepada semua klien, DHCP Scope tertentu, atau kepada sebuah host tertentu dalam jaringan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhit.web.id/bagaimana-cara-kerja-dhcp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Router di Rumah Dengan Ubuntu</title>
		<link>http://adhit.web.id/membangun-router-di-rumah-dengan-ubuntu/</link>
		<comments>http://adhit.web.id/membangun-router-di-rumah-dengan-ubuntu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 15:56:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adhit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Networking]]></category>
		<category><![CDATA[firewall]]></category>
		<category><![CDATA[router]]></category>
		<category><![CDATA[Ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhit.web.id/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Banyak rumah saat ini sudah memiliki akses Internet mandiri. Beberapa di antaranya bahkan telah menggunakan koneksi broadband dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Pertanyaannya, bisakah koneksi Internet tersebut dibagi-pakai ke banyak PC atau notebook di rumah? Jawabnya bisa, dengan router! Router yang akan dibuat — meskipun untuk kelas rumahan — dijamin memiliki kestabilan dan keamanan kelas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adhit.web.id/wp-content/uploads/2009/06/ubuntu-logo.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-39" title="ubuntu-logo" src="http://adhit.web.id/wp-content/uploads/2009/06/ubuntu-logo.gif" alt="ubuntu logo Membangun Router di Rumah Dengan Ubuntu" width="130" height="150" /></a>Banyak rumah saat ini sudah memiliki akses Internet mandiri. Beberapa di antaranya bahkan telah menggunakan koneksi broadband dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Pertanyaannya, bisakah koneksi Internet tersebut dibagi-pakai ke banyak PC atau notebook di rumah? Jawabnya bisa, dengan router!</p>
<p style="text-align: justify;">Router yang akan dibuat — meskipun untuk kelas rumahan — dijamin memiliki kestabilan dan keamanan kelas enterprise karena didukung dengan sistem operasi Linux. Eits, jangan alergi dulu dengan Linux. Linux yang ini sengaja dipilih dari distro Ubuntu Desktop — distro Linux termudah dan banyak digunakan sebagai terminal kerja. Kami jamin, Anda enggak bakal bertemu dengan perintah baris Linux yang banyak ditakuti oleh pengguna awam.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini kita akan menggunakan Linux Ubuntu Desktop versi 8.10 (Intrepid Ibex). Namun pengguna Ubuntu versi di bawahnya juga tetap dapat mengikuti langkah yang sama. Oh ya, router yang akan kita buat menggunakan aplikasi Firestarter (www.fs-security.com) yang punya lisensi gratis 100%. Aslinya, aplikasi ini adalah sebuah firewall dengan fitur router. Jadi router Anda nantinya akan memiliki fasilitas firewall. Asyik, kan?</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-164"></span>Mari kita mulai. Sebagai langkah awal, siapkan PC yang sudah ter-instal Ubuntu dan memiliki koneksi Internet aktif sehingga Anda bisa browsing di sana. Jangan lupa sediakan pula sebuah kartu jaringan tambahan untuk menghubungkan Ubuntu ke jaringan lokal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Instalasi Komponen Utama</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Ada dua komponen utama yang harus di-instal sebelum kita dapat memfungsikan PC sebagai router, yaitu Firestarter dan DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol). Komponen DHCP hanya perlu di-instal jika Anda ingin alamat IP dialokasikan otomatis kepada klien. Jika ingin melakukan konfigurasi alamat secara manual, DHCP tidak wajib di-instal. Untuk meng-instal Firestarter dan DHCP, klik menu System &gt; Administration &gt; Synaptic Package Manager (SPM). Kemudian masukkan password root Ubuntu Anda (jika diminta).</p>
<p style="text-align: justify;">2. Dari jendela SPM, manfaatkan fasilitas “Quick Search” untuk mencari paket Firestarter. Jika sudah ketemu, klik kotak kecil di sebelah paket Firestarter dan pilih “Mark for Installation”.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Selanjutnya, dengan cara yang sama, lakukan pencarian untuk paket DCHP. Jika SPM menyajikan banyak pilihan, pastikan Anda memilih paket “dhcp3-server”. Klik kembali kotak kecil dan pilih “Mark for Installation”. Kemudian klik tombol “Apply” dengan ikon centang hijau yang ada di atas. Sisanya biar Linux yang mengerjakan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Konfigurasi Router</strong></p>
<p style="text-align: justify;">4. Jika instalasi berjalan dengan mulus, langkah berikutnya adalah melakukan konfigurasi Firestarter agar semua koneksi dari klien bisa diteruskan ke Internet. Jalankan Firestarter dari menu Applications &gt; Internet &gt; Firestarter dan masukkan password root Ubuntu jika diminta.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Dari jendela utama Firestarter, klik menu Preferences di bagian atas (pastikan tab “Status” aktif), kemudian pilih Network Setting. Perhatikan 2 kotak drop-down yang ada di sana. Kotak drop-down paling atas adalah antarmuka jaringan yang terkoneksi dengan Internet. Jika menggunakan kartu jaringan Ethernet, antarmuka yang ditunjukkan kemungkinan besar adalah “eth0”. Sementara kotak drop-down kedua menunjukkan antarmuka untuk jaringan lokal.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Jika sudah ditentukan mana jaringan Internet dan lokal, Anda tinggal mengaktifkan (centang) opsi “Enable Internet connection sharing” dan “Enable DHCP for the local network” (alokasi IP klien otomatis). Rentang alokasi IP menggunakan DHCP juga bisa Anda tentukan sendiri, dengan mengklik tanda panah hitam di sebelah opsi “DCHP server details”. Opsi lain di jendela ini bisa dibiarkan apa adanya, karena kita tidak terlalu membutuhkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Setelah semua selesai disetel, klik tombol “Accept”. Dengan mengklik tombol “Start Firewall”, PC Anda sudah menjadi sebuah router untuk berbagi koneksi Internet. Mudah, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TIPS: Bonus Firewall</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak lengkap rasanya jika sebuah router tidak dilengkapi dengan pengaman tambahan untuk menangkal serangan yang sangat mungkin datang dari sisi Internet. Untungnya, Firestarter memang didesain untuk mengamankan PC yang terhubung ke Internet, termasuk klien-kliennya yang terhubung melalui fasilitas Internet Connection Sharing.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, secara default, Firestarter sudah bekerja sebagai firewall sejak pertama kali diaktifkan. Tetapi setelan default menurut kami masih memiliki banyak lubang yang jika tidak ditutup bukan tidak mungkin bakal ditembus cracker.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila keamanan menjadi prioritas Anda saat berselancar-ria, tidak ada salahnya mengikuti langkah-langkah sederhana berikut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>A. Menghadang Serangan dari Luar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Buka kembali jendela Preferences di Firestarter. Kali ini pilih “ICMP Filtering” dan aktifkan (centang) opsi “Enable ICMP Filtering”. Abaikan opsi lain di bawahnya jika memang tidak ada fitur lain dari protokol ICMP yang diizinkan diterima PC. Selanjutnya, klik tombol Accept.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Kembali ke jendela utama Firestarter, lalu pilih tab “Policy”. Di opsi Editing, pastikan terpilih “Inbound traffic policy” yang artinya kita akan membuat aturan tentang “siapa saja yang boleh mengakses PC atau port dari sisi Internet”. Jika tidak ada port yang boleh diakses dari Internet, maka pastikan daftar “Allow connection from host”, “Allow service”, dan “Forward service” dalam keadaan kosong. Sebaliknya, jika ingin membolehkan sebuah host dari sisi Internet terkoneksi ke router ini, klik kanan area kosong di daftar “Allow connection from host” dan pilih “Add rule”. Kemudian masukkan alamat IP dari host yang diizinkan mengakses router. Jika sudah, jangan lupa klik tombol “Add” dan “Apply”. Cara yang sama bisa dilakukan untuk membolehkan koneksi port/service dari Internet, hanya saja Anda harus bekerja di daftar “Allow service”.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Jika sudah, coba tes PC Anda dengan bantuan situs audit keamanan milik Gibson Research (www.grc.com). Bandingkan hasil sebelum dan sesudah konfigurasi dilakukan (lihat apakah Anda mendapat predikat “Passed” pada TruStealth Analysis atau tidak).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>B. Membatasi Akses URL Klien</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berhasil membatasi akses dari luar, sekarang kita akan membuat batasan terhadap klien yang akan mengakses Internet. Hal ini sangat berguna jika Anda ingin menghemat bandwidth atau mencegah pengguna di bawah umur mengakses situs yang tidak semestinya. Begini cara melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Dari jendela utama Firestarter, klik tab “Policy” dan ubah dropdown editing menjadi “Outbound traffic policy”. Opsi ini dipakai untuk membatasi akses klien lokal ke Internet atau kebalikan dari “Inbound traffic policy” yang telah kita bahas di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Akan muncul dua radio button yang masing masing berisi opsi “Permissive by default, black list traffic” dan “Restrictive by default, whitelist traffic”. Permissive by default digunakan jika Anda ingin mengizinkan semua lalu lintas data dari klien ke Internet dan menggunakan daftar policy untuk memblok alamat, host atau service/port tertentu. Sebaliknya, Restrictive by default digunakan untuk memblok semua lalu lintas data dari klien ke Internet dan menggunakan daftar policy untuk membolehkan akses ke alamat, host atau service/port tertentu. Jika ingin memblokir alamat tertentu saja, pilih Permissive by default.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Untuk memerintahkan agar Firestarter memblokir situs tertentu, lakukan dengan mengklik kanan area kosong di daftar “Deny connection to host”, lalu pilih “Add rule”. Masukkan alamat IP atau nama domain (tanpa “http://”) di field “IP, host or network”, lalu klik Add. Jika sudah, jangan lupa mengklik Apply di bagian atas jendela Firestarter. Coba kunjungi alamat yang diblokir tadi menggunakan browser.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhit.web.id/membangun-router-di-rumah-dengan-ubuntu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setting IP Dengan Bash Script di Fedora</title>
		<link>http://adhit.web.id/setting-ip-dengan-bash-script-di-fedora/</link>
		<comments>http://adhit.web.id/setting-ip-dengan-bash-script-di-fedora/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 16:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adhit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Networking]]></category>
		<category><![CDATA[Fedora]]></category>
		<category><![CDATA[IP Address]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhit.web.id/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda mempunyai PC atau laptop yang sering gonta-ganti setting IP, DNS dan Gateway. Anda akan kerepotan jika harus bolak-balik masuk Network Settings. Biar cepet dan tidak ribet, cobalah cara ini. Berikut ini adalah file-file konfigurasi yang berkaitan dengan Network Setting di linux : /etc/sysconfig/network (berisi Hostname dan Gateway /etc/resolv.conf (berisi setting DNS) /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 (berisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adhit.web.id/wp-content/uploads/2009/06/fedora-logo.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-33" title="fedora-logo" src="http://adhit.web.id/wp-content/uploads/2009/06/fedora-logo-300x296.png" alt="fedora logo 300x296 Setting IP Dengan Bash Script di Fedora" width="180" height="178" /></a>Jika anda mempunyai PC atau laptop yang sering gonta-ganti setting IP, DNS dan Gateway. Anda akan kerepotan jika harus bolak-balik masuk Network Settings. Biar cepet dan tidak ribet, cobalah cara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini adalah file-file konfigurasi yang berkaitan dengan Network Setting di linux :<br />
/etc/sysconfig/network (berisi Hostname dan Gateway<br />
/etc/resolv.conf (berisi setting DNS)<br />
/etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 (berisi NIC/ethernet card : IP address, netmask, broadcast address, dan sebagainya)</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah contoh isi dari file /etc/sysconfig/network</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-32"></span></p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>NETWORKING=yes<br />
GATEWAY=192.168.1.197<br />
HOSTNAME=robby-comp</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ini contoh isi dari file /etc/resolv.conf</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p># Dynamic resolv.conf(5) file for glibc resolver(3) generated by resolvconf(8)<br />
# DO NOT EDIT THIS FILE BY HAND &#8211; YOUR CHANGES WILL BE OVERWRITTEN<br />
nameserver 192.168.1.197<br />
nameserver 192.168.1.4</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ini isi dari /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>DEVICE=eth0<br />
BOOTPROTO=static<br />
IPADDR=192.168.1.12<br />
NETMASK=255.255.255.0<br />
NETWORK=192.168.1.0<br />
BROADCAST=192.168.1.255<br />
GATEWAY=192.168.1.197<br />
ONBOOT=yes<br />
METRIC=10<br />
MII_NOT_SUPPORTED=no<br />
USERCTL=yes<br />
MS_DNS1=192.168.1.197<br />
MS_DNS2=192.168.1.4<br />
RESOLV_MODS=yes<br />
IPV6INIT=no<br />
IPV6TO4INIT=no</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Misalnya anda  memakai 2 settingan IP berbeda di kantor dan di lapangan.<br />
di kantor :<br />
DNS 202.6.239.118<br />
IP 192.168.0.1<br />
Netmask 255.255.255.248<br />
Network 192.168.0.0<br />
Broadcast 192.168.0.255</p>
<p style="text-align: justify;">di lapangan:<br />
DNS 192.168.1.197<br />
IP 192.168.1.12<br />
Netmask 255.255.255.0<br />
Network 192.168.1.0<br />
Broadcast 192.168.1.255</p>
<p style="text-align: justify;">Repot banget kan kalau anda merubah settingan itu. Coba langkah ini:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Buatlah file (copy &#8211; paste dari yang asli) konfigurasi sesuai area anda, apapun namanya yang penting anda mengerti.</p>
<p style="text-align: justify;">/etc/sysconfig/network-lapangan<br />
/etc/sysconfig/network-kantor<br />
/etc/resolv.conf-lapangan<br />
/etc/resolv.conf-kantor<br />
/etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0-lapangan<br />
/etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0-kantor<br />
Isi file baru tadi sesuai dengan settingan anda.<br />
(ps : kalau masih ragu, backup aja file-file yang asli)<br />
2. Buat file isinya script :</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>#!/bin/bash<br />
cp -v /etc/resolv.conf-lapangan /etc/resolv.conf<br />
cp -v /etc/sysconfig/network-lapangan /etc/sysconfig/network<br />
cp -v /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0-lapangan /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0<br />
service network restart</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Simpan di /root/.netlap<br />
3. Buat file isinya script :</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>#!/bin/bash<br />
cp -v /etc/resolv.conf-kantor /etc/resolv.conf<br />
cp -v /etc/sysconfig/network-kantor /etc/sysconfig/network<br />
cp -v /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0-kantor /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0<br />
service network restart</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Simpan di /root/.netkantor</p>
<p style="text-align: justify;">4. Masukkan kedua script ini ke dalam shell environment. Edit file /root/.bashrc, dan masukkan ini:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>alias netlap=&#8221;/root/.netlap&#8221;<br />
alias netkantor=&#8221;/root/.netkantor&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengeksekusi, anda cukup melakukan ini<br />
cd /root<br />
./.netlap<br />
atau<br />
./.netkantor</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhit.web.id/setting-ip-dengan-bash-script-di-fedora/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Access Point (Ad Hoc Network) di Linux Ubuntu</title>
		<link>http://adhit.web.id/membuat-access-point-ad-hoc-network-di-linux-ubuntu/</link>
		<comments>http://adhit.web.id/membuat-access-point-ad-hoc-network-di-linux-ubuntu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 16:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adhit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Networking]]></category>
		<category><![CDATA[Access Point]]></category>
		<category><![CDATA[Ad Hoc]]></category>
		<category><![CDATA[Ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adhit.web.id/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana jika kita menemui kasus sebagai berikut: Lima orang programmer sedang berkumpul untuk konsolidasi sistem yang tengah mereka buat. Masing-masing membawa notebook yang dilengkapi dengan wifi. Mereka membutuhkan koneksi satu sama lain sebagaimana sebuah LAN (Local Area Network). Inilah saat yang tepat untuk membuat access point di salah satu notebook, sedang notebook lainnya sebagai client. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-12" title="linux" src="http://adhit.web.id/wp-content/uploads/2009/06/linux.jpg" alt="linux Membuat Access Point (Ad Hoc Network) di Linux Ubuntu" width="102" height="121" />Bagaimana jika kita menemui kasus sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Lima orang programmer sedang berkumpul untuk konsolidasi sistem yang tengah mereka buat. Masing-masing membawa notebook yang dilengkapi dengan wifi. Mereka membutuhkan koneksi satu sama lain sebagaimana sebuah LAN (Local Area Network). Inilah saat yang tepat untuk membuat access point di salah satu notebook, sedang notebook lainnya sebagai client.</p>
<p style="text-align: justify;">Buatlah file repository RAB <em>/etc/apt/sources.list.d/rab.list</em>:</p>
<p style="text-align: justify;">deb <a href="http://debian.rab.co.id/custom" target="_self">http://debian.rab.co.id/custom</a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span id="more-11"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Perbaharui daftar paket:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"># apt-get update</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Pasang paket yang dimaksud:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"># apt-get install wicd-adhoc</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu installer mencoba mencari wifi interface. Jika segala sesuatunya lancar akan tampil seperti ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Nama pavilion</p>
<p style="text-align: justify;">Interface wlan0</p>
<p style="text-align: justify;">IP 192.168.2.1</p>
<p style="text-align: justify;">Encrypt False</p>
<p style="text-align: justify;">Jika ada kendala, sesuaikan <em>/etc/wicd-adhoc.conf</em>, lalu jalankan ini:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"># /etc/init.d/wicd-adhoc start</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Mudah-mudahan Anda beruntung agar bisa melanjutkan tahap berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di sini sistem sudah dapat menerima &#8220;DHCP protocol&#8221;, namun belum bisa memberikan IP ke client. Untuk itu pasanglah paket berikut ini:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"># apt-get install dhcp3-server</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sesuaikan <em>/etc/default/dhcp3-server</em>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">INTERFACES=&#8221;wlan0&#8243;</p>
<p style="text-align: justify;">Sesuaikan juga /etc/dhcp3/dhcpd.conf:</p>
<p style="text-align: justify;">ddns-update-style none;</p>
<p style="text-align: justify;">default-lease-time 600;</p>
<p style="text-align: justify;">max-lease-time 7200;</p>
<p style="text-align: justify;">authoritative;</p>
<p style="text-align: justify;">log-facility local7;</p>
<p style="text-align: justify;">subnet 192.168.2.0 netmask 255.255.255.0 {</p>
<p style="text-align: justify;">interface wlan0;</p>
<p style="text-align: justify;">range 192.168.2.2 192.168.2.10;</p>
<p style="text-align: justify;">option routers 192.168.2.1;</p>
<p style="text-align: justify;">option domain-name-servers 202.59.201.67;</p>
<p style="text-align: justify;">}</p>
<p style="text-align: justify;">host pavilion {</p>
<p style="text-align: justify;">hardware ethernet 00:1b:77:ca:d3:0f;</p>
<p style="text-align: justify;">fixed-address 192.168.2.1;</p>
<p style="text-align: justify;">}</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">MAC address 00:1b:77:ca:d3:0f bisa diperoleh melalui:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"># ifconfig wlan0 | grep HWaddr</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">wlan0 Link encap:Ethernet HWaddr 00:1b:77:ca:d3:0f</p>
<p style="text-align: justify;">Perhatikan blok host pavilion yang sebenarnya milik server itu sendiri. Mengapa masih perlu didaftarkan ?</p>
<p style="text-align: justify;">Uji coba menunjukkan setelah interface wlan0 aktif dengan IP 192.168.2.1 dan DHCP server diaktifkan, wicd server melakukan &#8220;request IP&#8221; pada interface wlan0. Lalu disambut DHCP server dengan memberi IP 192.168.2.2. Blok itu memastikan wlan0 tetap mendapatkan IP 192.168.2.1 sesuai dengan MAC address-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aktifkan daemon-nya:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"># /etc/init.d/dhcp3-server start</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Konfigurasi selesai. Aktifkanlah wifi di notebook lainnya. Anda bisa pantau client request dengan cara:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"># tail -f /var/log/messages</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">May 30 15:58:03 pavilion dhcpd: DHCPREQUEST for 192.168.2.3 (192.168.2.1) from 00:14:a7:2b:28:8c via wlan0</p>
<p style="text-align: justify;">May 30 15:58:03 pavilion dhcpd: DHCPACK on 192.168.2.3 to 00:14:a7:2b:28:8c via wlan0</p>
<p style="text-align: justify;">Bila server ini direstart sistem access point ini otomatis aktif. Jika tidak ingin itu terjadi, Anda bisa matikan autostart-nya:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"># rm -f /etc/rc?.d/S??wicd-adhoc</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Lalu aktifkan manual dengan cara:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"># /etc/init.d/wicd-adhoc start</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Secara keseluruhan teknik ini disebut juga dengan membuat Ad-Hoc Network. Selamat mencoba.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adhit.web.id/membuat-access-point-ad-hoc-network-di-linux-ubuntu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

